Halaman

Safriyadin (Syd)

Senin, 28 Oktober 2024

NUSA KITA SOLID #14 : Petualangan Digital: NOBEL BATIK (iNOvasi pemBELajaran BerbAsis TIk dengan Kearifan lokal)

Pembelajaran Kontekstual dengan Petualangan Digital

Pembelajaran di sekolah dasar memiliki salah satu karakteristik yaitu anak masih senang dengan benda konkret atau pengalaman konstekstual. Perkembangan kognitif anak di tahap ini berlangsung sekitar usia 7 hingga 11 tahun dan ditandai dengan perkembangan pemikiran yang terorganisir dan rasional. Menurut Piaget bahwa tahap konkret sebagai titik balik utama dalam perkembangan kognitif anak, karena menandai awal pemikiran logis. Oleh karena itu, seorang guru sekolah dasar harus mampu menghadirkan pembelajaran yang inovatif dan kontekstual.

Inovasi pembelajaran kontekstual di sekolah dasar bertujuan untuk menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata peserta didik, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan relevan. Dengan pendekatan ini, peserta didik tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga memahami bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran kontekstual dengan petualangan digital adalah sebuah pendekatan pembelajaran yang menggabungkan konsep pembelajaran kontekstual dengan teknologi digital. Dalam pendekatan ini, peserta didik diajak untuk belajar sambil berpetualang dalam dunia digital yang telah dirancang sedemikian rupa sehingga relevan dengan materi pelajaran. Petualangan ini dapat berupa permainan, simulasi, atau bahkan eksplorasi virtual.

Alasan pembelajaran dengan petualangan digital di sekolah dasar, yakni:

  1. Relevan; yakni materi pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata peserta didik, sehingga lebih mudah dipahami dan diingat.
  2. Menyenangkan; yakni elemen permainan dan petualangan membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan.
  3. Interaktif; yakni peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran, tidak hanya sebagai penerima informasi.
  4. Visual; yakni visualisasi yang menarik membantu  peserta didik memahami konsep yang abstrak.
  5. Kolaboratif; yakni peserta didik dapat belajar bersama teman sebayanya dalam menyelesaikan tantangan dalam petualangan digital.
Oleh karena itu, pembelajaran kontekstual dengan petualangan digital merupakan pendekatan yang sangat menjanjikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar. Dengan menggabungkan elemen permainan, interaktivitas, dan relevansi, pendekatan ini dapat membuat peserta didi lebih aktif, terlibat, dan bersemangat dalam belajar.


Inovasi Pembelajaran Berbasis TIK dengan Kearifan Lokal

Situasi Sekolah Dasar Negeri Molekelisamba, Kabupaten Ende yang terletak di salah satu wilayah daerah terpencil yang cukup sulit dalam jangkauan transportasi dan keterbatasan jaringan internet, menjadi latar belakang saya melakukan inovasi pembelajaran berbasis TIK. Selain itu, secara geografis sekolah tempat saya mengabdi yang  terletak di Desa Mole, Kecamatan Ndori, masyarakatnya masih sangat kental dengan kearifan lokal daerahnya.

Saya mengajar peserta didik yang lahir di generasi alfa, tentu rasa ingin tahu peserta didik tentang teknologi sangat tinggi yang belum terlayani secara optimal. Sekolah kami juga mendapatkan bantuan chromebook dari pemerintah sebagai alat penunjang pembelajaran berbasis TIK, belum digunakan secara optimal dalam pembelajaran di kelas. Namun, perangkat ini biasa digunakan saat pelaksanaan kegiatan Asesmen Nasional.

Kebutuhan belajar peserta didik yang belum terlayani secara optimal serta tantangan implementasi program merdeka belajar untuk mewujudkan sekolah yang dicita-citakan dengan menumbuhkan kompetensi dan karakter semua peserta didik untuk menjadi pelajar sepanjang hayat dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri bagi saya sebagai seorang guru untuk menghadirkan pembelajaran inovatif berbasis TIK dan kontekstual dengan kearifal lokal di dalam pembelajaran di kelas.

Adapun implementasi pembelajaran digital dilakukan dalam 3 tahap, yaitu:
  1. Tahap persiapan, meliputi: (1) review hasil asesmen awal dan merancang skenario pembelajaran; (2) menetapkan tujuan atau aktivitas/langkah kegiatan; (3) menetapkan sumber belajar dan media yang akan digunakan; dan (4) menetapkan instrumen asesmen.
  2. Tahap pelaksanaan, meliputi: (1) menetapkan model/metode pembelajaran yang akan digunakan; (2) memastikan keterlibatan atau kolaborasi peserta didik; (3)  adanya kebermanfaatan dan umpan balik peserta didik; dan (4) disesuaikan dengan kondisi aktual dan kearifan lokal.
  3. Tahap evaluasi, meliputi: (1) mengevaluasi hasil belajar peserta didik secara menyeluruh; (2) menentukan tindak lanjut hasil asesmen.   

Pada pembelajaran IPAS kelas VI Materi Energi, saya mengimplementasikan model Learning Station. Model pembelajaran ini menekankan peran aktif peserta didik dalam pembelajaran dengan membagi mereka ke dalam kelompok-kelompok yang berkeliling di stasiun yang berbeda melakukan percobaan terhadap suatu subjek atau tantangan di stasiun lain. Model Learning Station dipilih karena dapat menghadirkan pembelajaran yang bermakna dengan aktivitas kolaborasi dan petualangan secara kontekstual dalam pembelajaran.

Adapun sintaks atau langkah-langkah implementasi Model Learning Station sebagai berikut:

  1. Pengelompokkan peserta didik. Guru membentuk kelompok dengan jumlah kelompokkan biasanya sama dengan jumlah stasiun. Peserta didik kelas VI sebanyak 11 orang, oleh karena itu saya mengelompokkan mereka dalam 3 kelompok dan 3 stasiun yang digunakan.
  2. Memilih jenis stasiun dalam pembelajaran dan pergerakan peserta didik ke stasiun. Pemilihan jenis stasiun yang tepat akan memastikan bahwa setiap peserta didik dapat mempunyai kesempatan terbaik untuk mengerjakan tugas mereka. Stasiun 1 dinamakan stasiun multimedia digital; stasiun 2 dinamakan stasiun games QR Code; dan stasiun 3 dinamakan stasiun kearifan lokal. Setiap kelompok diberi waktu 15 menit untuk menyelesaikan tantangan di setiap stasiun, lalu berpindah ke stasiun lainnya.
  3. Ringkasan kegiatan. Guru  mengajak peserta didik serta menyimpulkan pengetahuan baru yang perlu diketahui peserta didik atau merangkum hasil kegiatan atau mengembakan keterampilan baru pada peserta didiknya.
  4. Penilaian. Guru melakukan penilaian dengan menggunakan lembar observasi terhadap peserta didik selama periode stasiun atau kembar kerja sebagai hasil penilaian.
Platform pendidikan yang digunakan dalam pembelajaran ini tersebar dalam 3 stasiun, seperti tampak pada gambar berikut:


Stasiun 1
Pada stasiun 1 (stasiun multimedia digital), dimanfaatkan akun belajar.id peserta didik untuk login menggunakan perangkat chromebook sekolah. Google drive untuk menyimpan sejumlah file yang akan digunakan dalam pembelajaran. Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) tentang Energi yang sudah dibuat pada level 3 sebelumnya.  Video pembelajaran yang diunduh di portal rumah belajar. 

Gambar: Tampilan Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) pada Level 3

Aplikasi SIBI (Sistem Informasi Perbukuan Indonesia) digunakan untuk mengunduh beragam buku referensi yang berbeda. Kemudian, microsite s.id digunakan untuk menautkan sejumlah media yang telah dibuat, sehingga peserta didik mudah untuk mengaksesnya sesuai kebutuhan dalam pembelajaran. Perangkat yang digunakan di stasiun 1  adalah  chromebook dan earphone. Berikut gambar aktivitas peserta didik di stasiun 1.
            
Gambar: Aktivitas Peserta Didik di Stasiun 1

Stasiun 2
Pada stasiun 2 (stasiun games qr code), dimanfaatkan Platform Merdeka Mengajar (PMM) untuk mengakses sejumlah materi dan referensi yang digunakan dalam pembelajaran. Canva for Education, Quizizz, dan Liveworsheets digunakan untuk membuat lembar kerja peserta didik dan sejumlah pertanyaan kuis dan permainan. 
Selain itu, digunakan fitur Google Lens untuk membantu peserta didik memindai QR Code yang dipilih untuk menyelesaikan tantangan kuis dan permainan yang ada.
Perangkat yang digunakan di stasiun 2 adalah chromebook dan smartphone. Berikut gambar aktivitas peserta didik di stasiun 2.

Gambar: Aktivitas Peserta Didik di Stasiun 2

Stasiun 3
Pada stasiun 3 (stasiun kearifan lokal), dimanfaatkan akun belajar.id peserta didik untuk login menggunakan perangkat chromebook sekolah. Canva for Education dan Quizizz untuk membuat lembar kerja dan tantangan yang ada stasiun kearifan lokal. Serta, beberapa aplikasi dari Google Workspace for Education, seperti google dokumen dan google slide yang digunakan untuk menuliskan tantangan dan panduan yang ada di stasiun 3. Perangkat yang digunakan di stasiun 2 adalah chromebook dan smartphone. Stasiun 3 letaknya berada di luar kelas. Berikut gambar aktivitas peseta didik di stasiun 3.

Gambar: Aktivitas Peserta Didik di Stasiun 3

Kearifan lokal yang diangkat dalam pembelajaran ini adalah "Pire", merupakan yang merupakan tradisi di salah satu suku di wilayah Kabupaten Ende, lebih tepatnya Suku Lio. Kearifan lokal "Pire" merupakan pantangan dan larangan menggunakan sesuatu yang dipercaya sebagai larangan adat dan bisa dikenakan sanksi sosial sesuai tradisi masyarakat. Pada mata pelajaran IPAS Kelas VI, materi Energi terutama berkaitan dengan penghematan energi, kearifan lokal "Pire", yang menjadikan tantangan bagi peserta didik untuk mengaitkan, menganalisis, dan mencari solusi terkait penghematan energi di lingkungan tempat tinggalnya.

Dari hasil pembelajaran yang dilakukan, peserta didik sangat aktif mengikuti pembelajaran. Peserta didik termotivasi untuk menyelesaikan semua tantangan dengan saling berkolaborasi dengan peserta didik lainnya. Hal ini juga dapat dilihat dari hasil asesmen yang memenuhi kriteria ketercapaian pembelajaran. Adanya platform pendidikan dan perangkat TIK membantu peserta didik untuk mengenal beragam platform yang membantu mereka mencari referensi/sumber belajar yang beragam dan mudah diakses. Selain itu, pembelajaran yang kontekstual melalui kearifan lokal dapat menjadikan peserta mengenal dengan baik kearifan lokal dan dapat menjaga serta melestarikannya untuk generasi yang akan datang.

Demikian, inovasi pembelajaran berbasis TIK dengan kearifan lokal yang dilakukan di sekolah. Semoga menjadi sumber referensi pembelajaran bagi Bapak/Ibu guru hebat untuk mendesain pembelajarannya di kelas. Silakan amati, tiru, dan modifikasi sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik di sekolah masing-masing. Mari kita terus berinovasi dalam pembelajaran untuk mewujudkan implementasi kurikulum merdeka.


#BLPTKemendikbudristek
#MerdekaBelajar
#PembaTIK2024
#SahabatTeknologiKemendikbudristek
#PlatformMerdekaMengajar  

0 comments:

Posting Komentar