Halaman

Safriyadin (Syd)

NUSA KITA SOLID

Komitmen dan Langkah Nyata pada PembaTIK 2024

VLOG PembaTIK 2024

Inovasi Pembelajaran - Kegiatan Berbagi dan Berkolaborasi

Inovasi Pembelajaran

Petualangan Digital: NOBEL BATIK (iNOvasi pemBELajaran BerbAsis TIk dengan Kearifan lokal)

Sambutan Wisudawan

Upacara Wisuda Universitas Negeri Semarang

Wisudawan Terbaik

Upacara Wisuda Universitas Negeri Semarang

Safriyadin (Syd)

Wisudawan Terbaik Program Sarjana

Plakat Penghargaan Wisudawan Terbaik

Upacara Wisuda Universitas Negeri Semarang

Selasa, 24 Oktober 2023

Series Spirit 02 - Berbagi di SDK Aebara


SERIES SPIRIT 02 

BERBAGI INOVASI PEMANFAATAN TIK DALAM PEMBELAJARAN  DI SDK AEBARA


Halo, Bapak/Ibu Guru Hebat,

Saya Safriyadin, Sahabat Teknologi Nusa Tenggara Timur - Tahun 2023.


Bagaimana kabarnya hari ini?

Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal'afiat.


Pasti sahabat semua ingin tahu kegiatan apa saja yang kami lakukan di Artikel ini.

Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu yang selalu mendukung kegiatan berbagi dan berkolaborasi, antara lain Bapak/Ibu Duta Teknologi, Bapak/Ibu di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende, serta Bapak/Ibu Guru hebat semuanya. 


Mari kita simak kegiatan kedua kami tentang berbagi praktik baik dalam Series Spirit 02



Pada kegiatan berbagi dan berkolaborasi PembaTIK Level 4 Series Spirit 02, Saya berkunjung dan berbagi di Sekolah Dasar Katolik Aebara (SDI Aebara), Gugus 1, Kecamatan Ndori, Kabupaten Ende.

Setelah berkunjung ke SDI Aerea, Saya langsung menuju ke SDK Aebara, karena letaknya berdekatan. Kira-kira hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 menit perjalanan dengan sepeda motor dari SDI Aerea ke SDK Aebara. Sebelum berkunjung ke SDK Aebara pada hari Selasa 17 Oktober 2023, Saya terlebih dahulu menghubungi Kepala Sekolah (Ibu Yasinta Badhe, S.Pd. SD.) via WhatsApp, karena beliau kebetulan juga tidak berada di sekolah, karena mengikuti kegiatan Penguatan Literasi bersama salah satu guru selama 4 hari yang diselenggarakan oleh BPMP Provinsi NTT di salah satu hotel di Kota Kabupaten. Setelah menghubungi Ibu Kepala Sekolah, lalu diizinkan untuk berbagi di sekolah keesokan harinya. 


Saat tiba di SDI Aerea, Saya disambut dengan sangat baik oleh para guru. Para guru yang Saya temui hanya 5 orang, karena guru lainnya mengikuti kegiatan penguatan literasi di Kota Kabupaten dan yang lainnya sebagai peserta yang mengikuti kegiatan Numerasi Gasing (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan) yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende selama 14 hari melalui pengimbasan oleh para trainer tingkat kecamatan yang berlokasi di SMP Negeri 5 Wolowaru di Maubasa, Kecamatan Ndori. Saat akan memaparkan materi, tiba-tiba listrik padam, sehingga tidak bisa menggunakan LCD dan proyektor. Walaupun keadaan listrik padam, Saya tetap berbagi sambil memegang laptop dan memperlihatkan slide dan juga video yang telah disiapkan sebelumnya. Saya merasa senang dan mengapresiasi terhadap sambutan dan persiapan mereka. Hal ini merupakan salah satu bentuk dukungan penuh bagi Saya sebagai Sahabat Teknologi.



Saat kegiatan berbagi Series Spirit 02 ini, sebelum menyampaikan terkait materi, Saya memperkenalkan diri terlebih dahulu dan memperkenalkan kegiatan PembaTIK ini kepada semua yang hadir. Saya menyampaikan materi terkait Inovasi TIK dan Kearifan Lokal (Permainan Tradisional) dalam Pembelajaran Kurikulum Merdeka. Selain itu, inovasi TIK yang dilakukan ini guna memanfaatkan Chromebook sekolah bantuan pemerintah yang jarang digunakan, memanfaatkan akun belajar.id murid yang sangat jarang digunakan. Inovasi ini menerapkan salah satu aplikasi XAMPP yang membantu guru dan murid mengakses berbagai macam sumber belajar, seperti buku elektronik, buku audio/podcast dari SIBI (Sistem Perbukuan Indonesia), video pembelajaran dari PMM, dan juga Quizizz yang dapat diakses oleh murid, walaupun tanpa jaringan internet dengan cara localhost. Inovasi ini perlu dikembangkan mengingat letak geografis dan topografis di sebagian besar wilayah Kabupaten Ende, akses internet tidak stabil bahkan tanpa jaringan sama sekali.


Walaupun dengan kemajuan teknologi, Saya juga tetap mengangkat budaya dan kearifan lokal murid seperti permainan tradisional sesuai karakteristik murid sekolah dasar. Selain itu, dalam pembelajaran kurikulum merdeka, dalam mengelompokkan murid sesuai profil gaya belajarnya, tidak lupa nama kelompok diberi nama sesuai dengan budaya/kearifan lokal, seperti nama tarian atau pahlawan daerah.

Sehingga, seiring dengan perkembangan teknologi, kita tetap tidak melupakan nilai-nilai kearifan lokal untuk tetap dilestarikan oleh murid, sebagai generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas.


Para guru juga tampak asyik menyimak pemaparan yang Saya lakukan sambil sesekali mencatat poin penting dan nama-nama aplikasi yang dapat dimanfaatkan dalam inovasi pembelajaran.


Di akhir kegiatan berbagi, para guru mengisi daftar hadir yang telah disediakan dan juga berfoto bersama untuk dokumentasi kegiatan. Terima kasih atas partisipasi dan dukungan penuh dari kepala sekolah dan para guru SDK Aebara. Marilah kita terus bersemangat dan terus berinovasi untuk menghadirkan pembelajaran yang terbaik untuk murid.


Poin Spirit Spirit 02:

Teknologi dalam pembelajaran adalah suatu tuntutan zaman.


Berikut ini adalah Video Series Spirit 02:


Link Daftar Hadir Series Spirit 02:



#PusdatinKemendikbudristek

#BLPTKemendikbudristek

#MerdekaBelajar

#PembaTIK2023

#SahabatTeknologiKemendikbudristek

#PlatformMerdekaMengajar





Series Spirit 01 - Berbagi di SDI Aerea


SERIES SPIRIT 01

BERBAGI INOVASI PEMANFAATAN TIK DALAM PEMBELAJARAN DI SDI AEREA


Halo, Bapak/Ibu Guru Hebat,

Saya Safriyadin, Sahabat Teknologi Nusa Tenggara Timur - Tahun 2023.


Bagaimana kabarnya hari ini?

Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal'afiat.


Pasti sahabat semua ingin tahu kegiatan apa saja yang kami lakukan di Artikel ini.

Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu yang selalu mendukung kegiatan berbagi dan berkolaborasi, antara lain Bapak/Ibu Duta Teknologi, Bapak/Ibu di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende, serta Bapak/Ibu Guru hebat semuanya. 


Mari kita simak kegiatan pertama kami tentang berbagi praktik baik dalam Series Spirit 01



Pada kegiatan berbagi dan berkolaborasi PembaTIK Level 4 Series Spirit 01, Saya berkunjung dan berbagi di Sekolah Dasar Inpres Aerea (SDI Aerea), Gugus 1, Kecamatan Ndori, Kabupaten Ende.


Sebelum berkunjung ke SDI Aerea pada hari Selasa 17 Oktober 2023, Saya terlebih dahulu menghubungi Ibu Kepala Sekolah (Maria Dafrosa Tely, S.Pd. SD.) via WhatsApp, karena beliau kebetulan tidak berada di sekolah, karena mengikuti kegiatan Bimtek dan Lokakarya ke 2 PGP di Kota Kabupaten. Setelah menghubungi Ibu Kepala Sekolah, lalu diizinkan untuk berbagi di sekolah keesokan harinya. 


Saat tiba di SDI Aerea, Saya disambut dengan sangat baik oleh para guru. Bahkan, ada guru dari SMP Satap Aerea yang kebetulan letaknya bersebelahan dengan SDI Aerea, juga turut hadir bersama dalam kegiatan ini. Banyak guru yang hadir ada 7 orang. Ada guru SDI Aerea yang tidak hadir karena mengikuti kegiatan penguatan literasi di Kota Kabupaten dan yang lainnya mengikuti kegiatan Numerasi Gasing (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan) sebagai trainer dan juga peserta yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende selama 14 hari melalui pengimbasan oleh para trainer tingkat kecamatan yang berlokasi di SMP Negeri 5 Wolowaru di Maubasa, Kecamatan Ndori. Mereka juga telah menyiapkan ruang guru untuk kegiatan berbagi lengkap dengan LCD yang sudah terpasang. Saya merasa senang dan mengapresiasi terhadap sambutan dan persiapan mereka. Hal ini merupakan salah satu bentuk dukungan penuh bagi Saya sebagai Sahabat Teknologi.


Saat kegiatan berbagi Series Spirit 01 ini, Saya menyampaikan materi terkait Inovasi TIK dan Kearifan Lokal (Permainan Tradisional) dalam Pembelajaran Kurikulum Merdeka. Selain itu, inovasi TIK yang dilakukan ini guna memanfaatkan Chromebook sekolah bantuan pemerintah yang jarang digunakan, memanfaatkan akun belajar.id murid yang sangat jarang digunakan. Inovasi ini menerapkan salah satu aplikasi XAMPP yang membantu guru dan murid mengakses berbagai macam sumber belajar, seperti buku elektronik, buku audio/podcast dari SIBI (Sistem Perbukuan Indonesia), video pembelajaran dari PMM, dan juga Quizizz yang dapat diakses oleh murid, walaupun tanpa jaringan internet dengan cara localhost. Inovasi ini perlu dikembangkan mengingat letak geografis dan topografis di sebagian besar wilayah Kabupaten Ende, akses internet tidak stabil bahkan tanpa jaringan sama sekali.





Walaupun dengan kemajuan teknologi, Saya juga tetap mengangkat budaya dan kearifan lokal murid seperti permainan tradisional sesuai karakteristik murid sekolah dasar. Selain itu, dalam pembelajaran kurikulum merdeka, dalam mengelompokkan murid sesuai profil gaya belajarnya, tidak lupa nama kelompok diberi nama sesuai dengan budaya/kearifan lokal, seperti nama tarian atau pahlawan daerah.

Sehingga, seiring dengan perkembangan teknologi, kita tetap tidak melupakan nilai-nilai kearifan lokal untuk tetap dilestarikan oleh murid, sebagai generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas.


Para guru juga tampak asyik menyimak pemaparan yang Saya lakukan sambil sesekali mencatat poin penting dan nama-nama aplikasi yang dapat dimanfaatkan dalam inovasi pembelajaran.


Di akhir kegiatan berbagi, para guru mengisi daftar hadir yang telah disediakan dan juga berfoto bersama untuk dokumentasi kegiatan. Terima kasih atas partisipasi dan dukungan penuh dari kepala sekolah dan para guru SDI Aerea. Marilah kita terus bersemangat dan terus berinovasi untuk menghadirkan pembelajaran yang terbaik untuk murid.


Poin Series Spirit 01:

Segala sesuatu harus diawali dengan mau mencoba.


Berikut ini adalah Video Series Spirit 01:


Link Daftar Hadir Series Spirit 01:



#PusdatinKemendikbudristek

#BLPTKemendikbudristek

#MerdekaBelajar

#PembaTIK2023

#SahabatTeknologiKemendikbudristek

#PlatformMerdekaMengajar






Minggu, 30 April 2023

Pemanfaatan PMM di Komunitas KKG Ndori

 


          Sabtu, 11/02/2023. Bertepatan dengan satu tahun peluncuran Platform Merdeka Mengajar (PMM), Komunitas  Kelompok Kerja Guru (KKG) Kecamatan Ndori mengadakan kegiatan rutin komunitas di SD Inpres Iliwodo 1. Salah satu agenda utama kegiatan komunitas yaitu melakukan pengembangan diri dengan memanfaatkan PMM dalam Implementasi Kurikulum Merdeka. Kegiatan komunitas tersebut dihadiri oleh semua kepala sekolah, pengurus komunitas, guru penggerak, dan semua guru kelas dan mata pelajaran di Kecamatan Ndori yang tersebar dalam dua gugus.
       Kegiatan diawali dengan mengupdate kembali PMM ke versi terbaru yaitu versi 1.26.0. Dilanjutkan dengan mengikuti pelatihan bersama Kurikulum Merdeka pada menu Pelatihan Mandiri serta melakukan unggah hasil karya praktik baik setiap guru dalam Bukti Karya di PMM.


    Antusiasme guru dalam mengikuti kegiatan tersebut sangat tinggi, hal ini bisa dilihat dari banyaknya peserta yang mengikuti atau bergabung pada komunitas PMM yaitu KKG Ndori - Kabupaten Ende. Kegiatan ini dipandu oleh ketua KKG masing-masing gugus. Diharapkan setiap guru mengikuti semua Pelatihan Mandiri di PMM dengan menyimak video dan materi pelatihan di setiap modul pelatihan, lalu menulis catatan reflektif di setiap modul pelatihan dan mengerjakan post test. Setelah mengikuti pelatihan dalam modul PMM, guru dapat melakukan praktik pemahaman terhadap topik yang telah dipelajari dengan melakukan Aksi Nyata yang akhirnya mendapat sertifikat untuk setiap topik pelatihannya.


      Ada beragam topik Pelatihan Mandiri yang dapat diikuti oleh guru, seperti Merdeka Belajar, Kurikulum Merdeka, Perencanaan Pembelajaran SD/Paket A, Asesmen SD/Paket A, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), dan lain sebagainya. Selain itu, setiap guru juga dapat mengunggah Praktik Baik dalam PMM melalui menu Bukti Karya. Praktik Baik Bukti Karya guru tersebut antara lain seperti Bahan Ajar, Praktik Baik Pembelajaran, RPP/Modul Ajar, dan karya lain diharapkan dapat dibagikan ke anggota komunitas lainnya, maupun guru pada komunitas lain melalui berbagai media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, dan lainnya agar menjadi inspirasi dalam melakukan pembelajaran yang menarik sesuai tuntutan era digital di dunia pendidikan.


     Melalui kegiatan komunitas KKG ini, Ketua K3S dalam arahannya mengharapkan kekompakkan dan kerja sama guru dalam komunitas maupun subkomunitas untuk menyatukan visi dan semangat yang sama untuk memajukan dunia pendidikan. Selain melakukan penerapan PMM dalam pembelajaran, kegiatan komunitas ini dilanjutkan dengan penyusunan kisi-kisi soal Penilaian Tengah Semester (PTS) 2 dan Asesmen Sumatif Tengah Semester (STS) 2. Kegiatan rutin komunitas KKG ini terus berlanjut dengan agenda menarik lainnya yang telah disusun bersama masing-masing sub dalam komunitas.


Editor: Safriyadin, S.Pd., Gr.

Rabu, 15 Februari 2023

Solusi Dilema Belajar dari Rumah di Daerah Terpencil

 (Ditulis dalam Lomba Menulis Artikel Antarguru pada HUT PGRI 2022 - Peringkat 2 - Kab. Ende)

Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah mengganggu semua sektor penting di negeri ini, tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Berbagai macam stimulus kebijakan dilakukan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan dalam menghadapi pandemi ini, agar pembelajaran tetap dan terus berlangsung. Pembelajaran dalam jaringan (online) menjadi salah satu pilihan yang cukup jitu. Mulai dari penggunaan aplikasi pendidikan gratis atau berbayar menggunakan ponsel pintar dan laptop sampai dibuat program khusus belajar dari rumah di televisi pemerintah.

Antusias guru, siswa, dan orang tua cukup bagus, bisa terlihat dari postingan media sosial guru dan orang tua yang mengabadikan momentum belajar dari rumah untuk anak-anak didiknya. Walaupun guru dan orang tua harus mengeluarkan biaya lebih, karena biaya paket internet akan melonjak tentunya. Kebijakan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah pun dilakukan perubahan cepat menyesuaikan keadaan pandemi, salah satunya digunakan untuk belanja paket internet bagi guru dan peserta didik. Namun, di lapangan bisa berbeda cerita, misalnya keterlambatan pencairan dana atau ketimpangan status kepegawaian guru yang menjadi ramai diperbincangkan. Terlepas dari semua itu, pihak sekolah dan orang tua harus memastikan pembelajaran tetap dan terus dilakukan tanpa tatap muka secara langsung.

Esensi  ideal belajar dari rumah sebenarnya adalah penyampaian materi atau komunikasi interaktif dari guru kepada peserta didik yang dilakukan secara daring (online) menggunakan berbagai aplikasi, misalnya whatsapp group, zoom meeting, google meet, google classroom, dan lain sebagainya. Pembelajaran seperti ini bisa dilakukan secara interaktif dan orang tua dapat memantau aktivitas belajar anaknya. Kondisi ideal seperti ini dirasa mudah dan menyenangkan untuk guru yang bertugas di daerah perkotaan atau memiliki jaringan internet yang bagus dan ketersediaan listrik. Cerita tersebut bukanlah kondisi yang dirasakan oleh sekolah-sekolah yang berada di pedesaan, terlebih lagi daerah terpencil atau pelosok, seperti di SDN Molekelisamba, Kecamatan Ndori, Kabupaten Ende. Sebagian peserta didik dan orang tua menganggap belajar dari rumah seperti “liburan”, apalagi banyak berita tentang korban Covid-19 yang digencarkan oleh media maupun masyarakat umum. Pola pikir seperti ini tidak bisa sepenuhnya salah, karena pembelajaran ideal menggunakan media daring (online) tidak dapat dilakukan bahkan mustahil bisa dilakukan. Mulai dari tidak ada jaringan listrik, tidak ada jaringan internet, minimnya orang tua yang mempunyai ponsel pintar, belum lagi keterampilan menggunakan aplikasi pembelajaran hingga terjepitnya kebutuhan ekonomi orang tua siswa di daerah terpencil.

Pembelajaran dari rumah secara daring (online) di daerah terpencil, kini hanya sebatas mimpi bagi pendidik, siswa, maupun orang tua. Walaupun demikian, hal mustahil ini bisa dikreasikan oleh guru dengan segala inovasi yang dimilikinya. Ibarat tak ada rotan akarpun jadi. Ada cara yang bisa dilakukan oleh guru, yaitu menggunakan metode pemberian tugas terstruktur. Metode tugas terstruktur ini dilaksanakan secara luring atau luar jaringan. Metode ini langsung dipantau sendiri oleh guru atau pun kepala sekolah ke rumah siswa dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, seperti mengenakan masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan, serta mencuci tangan dengan sabun atau handsanitazer.

Metode tugas terstruktur ini berupa ringkasan materi ajar yang dimodifikasi guru disertai latihan-latihan soal yang dibuat semenarik mungkin agar ada daya tarik terhadap tugas tersebut. Harapannya tentu akan terus muncul motivasi belajar siswa, walaupun di tengah kondisi pandemi. Perlu diperhatikanguru dalam pemberian latihan soal tidak berlebihan atau dalam jumlah banyak, karena akan menimbulkan rasa jenuh dan bosan bagi siswa. Oleh karena itu, dilakukan secara terstruktur yakni memberikan materi pembelajaran dan latihan soal secara terukur dengan batasan waktu tertentu. Misalnya, dijadwalkan materi pembelajaran dan latihan soal yang akan diberikan pada siswa dalam satu minggu, namun perlu diingat dalam rentang waktu tersebut guru tetap memantau secara berkala perkembangan belajar siswa dan perlu bekerja sama dengan orang tua untuk memastikan kegiatan belajar dari rumah tetap belangsung. Setelah itu, latihan soal langsung dikoreksi dan diberikan penguatan oleh guru, lalu diberikan lagi materi dan latihan soal untuk pembelajaran berikutnya. Cara ini cukup efektif walaupun guru harus berkorban lebih, karena harus mengujungi siswa di daerah terpencil dengan segala keterbatasan, guna memastikan pembelajaran tetap dan terus berjalan sebagaimana mestinya di masa pandemi ini.

Kini masa pandemi perlahan mulai berakhir, siswa pun kembali ke sekolah sebagaimana biasanya. Namun, pengalaman belajar di masa pandemi dengan metode tugas terstruktur memberikan refleksi tersendiri bagi guru ke depan. Hal ini terutama berkaitan dengan pengemasan konten materi pelajaran yang selalu dibuat sederhana dan menarik bagi siswa, agar memberikan semangat atau motivasi belajar siswa. Pembelajaran dengan motode tugas tersetruktur ini, sejalan dengan semangat kurikulum merdeka dengan konten materi yang lebih sederhana dan sekolah dapat mengatur sendiri pembelajaran yang menarik melalui proyek penguatan profil pelajar Pancasila. Harapannya semangat dan inovasi guru dan siswa tetap selalu terjaga dan berkembang di segala kondisi, di saat pandemi maupun kondisi setelah pandemi berakhir, guna terwujudnya guru cerdas pulihkan pendidikan, menuju Indonesia tangguh.


Sabtu, 28 Desember 2019

Siklunisasi Pendidikan Vs Merdeka Belajar


Siklunisasi Pendidikan Vs Merdeka Belajar
(Catatan Kritis, Refleksi Pendidik)

Oleh: Safriyadin, S.Pd., Gr.



Bangsa Indonesia adalah bangsa besar dengan beragam suku, ras, agama, adat-istiadat dan pembiasaan masyarakatnya. Kemajemukan bangsa ini, tentu berbanding lurus dengan rumitnya permasalahan yang dihadapi. Triliunan rupiah digelontorkan untuk keperluan segala sektor pembangunan bangsa. Salah satu sektor yang mendapat gelontoran cukup banyak yang diamanatkan konstitusi yakni sektor pendidikan. Berbicara mengenai sektor ini, seolah-olah mengurai benang kusut yang tak ada ujungnya.

Tujuan pendidikan Indonesia sangat mulia, sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sumber daya manusia yang unggul tercipta melalui sistem pendidikan yang berkualitas. Arah pembangunan menuju Indonesia maju dengan SDM unggul tentu sektor pendidikan mempunyai andil yang cukup besar.

Wujudnya pendidikan yang berkualitas untuk Indonesia maju, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sistem pendidikan yang sudah tersusun sedemikian rupa ini, masih terhadang dengan berbagai permasalahan. Dimulai dari kurikulum, administasi guru, hingga status guru dan master plan sistem pendidikan. Sudah menjadi istilah umum “ganti pemimpin, ganti kurikulum” dengan dalih perkembangan zaman. Sebagai orang yang bergelut di dunia pendidikan, mendengar istilah tersebut saja sudah cukup deg-degan dan dibayangkan akan merepotkan dalam penerapannya.

Kurikulum dan pembaharuannya dengan beragam versi dan revisi silih berganti bagai tanaman musiman yang muncul dalam siklus tahunan, bahkan semesteran. Pergantian pemimpin sangat dinanti oleh mereka yang bergelut di dunia pendidikan untuk mendengar arah pikirnya, apakah membawa angin segar untuk pembaharuan dan kemajuan pendidikan atau masih dengan lagu lama “aku masih seperti yang dulu”.

Selama ini, di ruang kelas hanya sebatas interaksi penyampaian kompetensi dan sedikit variasinya yang sudah terprogram secara menyeluruh dan berlanjut setiap hari, setiap semester, dan setiap tahun. Sehingga pembelajaran yang mendalam, kritis, dan bermakna seolah terlewatkan dengan kejar tayang materi. Akibatnya, siswa yang lemah akan semakin tertinggal dan siswa yang kuat akan terus memuncak. Setelah semua kompetensi tersampaikan tepat waktu, tibalah saat ujian yang melelahkan, dan berujung rekapitulasi nilai yang menentukan langkah/jenjang berikutnya. Sudah menjadi rahasia umum, guru akan “berusaha keras” dan sedikit “memaksakan diri” agar nilai anak didiknya bisa mencapai standar kriteria ketuntasan hingga terlihat berhasil. Siklus ini terus berlanjut dengan cara-cara pembelajaran yang sama dan dianggap wajar.

Dimulai dari administrasi yang dibuat seformal mungkin dan pelaksanaannya sesuai juknis, dengan segala hiruk pikuk birokrasi serta kebiasaan “tidak sibuk” siswa beda generasi ini, tapi hasilnya “biasa-biasa saja” dan menjadi rutinitas melelahkan, membuat guru berpikir lebih sulit dengan kenyataan yang mengecewakan ini. Hal ini terus menerus dilakukan, sehingga tidak heran kualitas guru dan anak didiknya menjadi begitu-begitu saja. Inilah yang dinamakan siklunisasi pendidikan.

Namun, ada satu pertanyaan besar, Bagaimana cara agar bisa “keluar” dari kebiasaan formalitas dan siklunisasi pendidikan ini, menjadi suatu proses interaksi alamiah pembelajaran di kelas yang merdeka dan menyenangkan serta mempunyai output SDM unggul?. Hal ini tentu bisa diwujudkan melalui ramuan kebijakan yang memerdekakan dari belenggu sistem siklunisasi pendidikan ini. Misal, administasi dan perencanaan pembelajaran dibuat sederhana, pembelajaran dikemas “sebebas” mungkin, dan evaluasi dibuat praktis, efisien, dan terukur, tanpa ada “teror” ketakutan dan was-was dari anak didik maupun gurunya.

Sekolah hadir memberikan kenyamanan untuk siswa dan guru serta diberikan kemerdekaan untuk menentukan lulusan-lulusan unggul. Melalui pembelajaran yang bermakna dan lingkungan yang kondusif, kemerdekaan belajar dapat dicapai. Terlebih guru harus paham secara mendalam tentang tujuan dan output dari pembelajaran yang dilakukan, dan tidak kaku dengan acuan kompetensi minimal yang ada, serta perlahan “hijrah” dari pola lama siklunisasi pendidikan menjadi pola belajar yang merdeka dan bermakna. Namun, semua hal yang diuraikan di atas akan menjadi sia-sia dan bualan belaka, jika niat baik guru ini masih terganjal dengan kesejahteraannya.

Sabtu, 06 Juli 2019

Anak Nakal, Salah Guru?

Oleh: Safriyadin, S.Pd., Gr.
Sabtu, 06 Juli 2019











Seorang anak yang nakal di usia sekolah sering dikaitkan bahkan disalahkan pada guru di sekolah. Hal ini mengingat tugas utama guru adalah seorang pendidik. Mendidik bukan hanya sebatas proses dan kegiatan pentransferan ilmu, mendidik juga diharapkan terjadi perubahan tingkah laku secara komprehensif atau menyeluruh, yaitu aspek kognitif (pengetahuan), psikomotor (keterampilan), terlebih aspek afektif (sikap spiritual dan sikap sosial).

Salah satu kenakalan siswa yang cukup “terkenal”, yaitu tawuran pelajar. Tahun 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), mencatat kasus tawuran di Indonesia meningkat 1,1 persen sepanjang 2018. Pada tahun sebelumnya, angka tawuran hanya 12,9 persen, tapi tahun 2018 meningkat menjadi 14 persen (Koran Tempo, 12 September 2018). Kasus tawuran hanyalah contoh kecil dari kasus kenakalan anak di usia sekolah. Masih terdapat banyak kasus atau perilaku menyimpang anak di berbagai aspek lainnya.

Apakah seorang siswa nakal adalah kegagalan dalam pendidikan?, terutama ditujukan pada guru sebagai pendidik di sekolah?. Orang-orang di luar pendidikan “melumrahkan” hal tersebut merupakan kegagalan pendidik di negeri ini. Akan tetapi, jika hanya dikambinghitamkan pada guru di sekolah, sebagai insan pendidik adalah salah besar dan tidaklah benar.

Lalu, siapa saja yang seharusnya bertanggungjawab terhadap kenakalan siswa tersebut?. Disinilah pentingnya Sinergisitas Konsep Tri Sentra Pendidikan atau Tri Pusat Pendidikan yang dikemukakan Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Pendidikan yang berhasil secara komprehensif didukung oleh kerja sistem yang konstruktif. Konsep Tri Pusat Pendidikan mendukung keberhasilan tujuan pendidikan yang didukung oleh berbagai komponen pendidikan. Komponen pendukung tersebut tersebar di tiga lingkungan pendidikan, yaitu (1) lingkungan keluarga; (2) lingkungan sekolah; dan (3) lingkungan masyarakat.

Berdasarkan konsep Tri Pusat Pendidikan, guru hanyalah salah satu komponen di lingkungan sekolah, sedangkan di lingkungan sekolah juga masih terdapat komponen lain yang ikut menentukan proses pendidikan.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN), pasal 1 ayat 3 menyatakan sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Lingkungan pertama dan utama dari konsep Tri Pusat Pendidikan adalah lingkungan keluarga. Seorang anak lahir dan tumbuh di lingkungan pertamanya yaitu keluarga. Dipertegas dalam UUSPN pasal 7 ayat 2 menyatakan bahwa orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya. Dari pasal tersebut, sangatlah jelas peran keluarga (orang tua) dalam sistem pendidikan nasional. Munib (2010: 79) menyatakan orang tua atau pengganti orang tua di lingkungan keluarga yang menjadi pendidik dalam pendidikan keluarga karena sebagai pendidik secara kodrati dan memiliki hubungan kependidikan bersifat cinta kasih dan alamiah.

Perhatian orang tua di lingkungan keluarga mempunyai hubungan yang kuat terhadap proses pendidikan anak. Hubungan yang optimal terhadap anak dapat menentukan perkembangan anak selanjutnya ketika berada di lingkungan sekolah dengan terbiasa pola hidup teratur dan tingkah laku yang baik sesuai tuntutan ajaran agama dan aturan yang berlaku.

Seorang anak memerlukan persiapan khusus untuk memasuki usia dewasa, sehingga orang tua di lingkungan keluarga memerlukan lembaga tertentu untuk melakukan sebagian fungsinya sebagai pendidik yaitu lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah memiliki sumber daya manusia yang menjadi ujung tombak dari tercapainya tujuan pendidikan yaitu seorang guru. Peran guru sebagai pendidik di sekolah merupakan kelanjutan peran orang tua di lingkungan keluarga. Di lingkungan sekolah, guru sebagai pendidik tentu terikat aturan yang berlaku di sekolah. Hal ini memerlukan komponen lain sebagai pembuat kebijakan utama yakni pemerintah. Pemerintah seperti pada pasal 10 UUSPN mempunyai andil yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan dalam memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu tanpa diskriminasi.

Selain komponen lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah, lingkungan yang berperan strategis dalam pendidikan adalah lingkungan masyarakat. UUSPN pasal 9 menyatakan bahwa masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Lingkungan masyarakat di sekitar siswa sangat berperan dalam pembentukan karakter dan watak seorang siswa. Komponen lingkungan pergaulan sebaya siswa. Komponen lain di lingkungan masyarakat yang berperan secara langsung maupun tidak langsung adalah tontonan di media masa dan media sosial. Gencarnya perkembangan teknologi informasi, memudahkan siswa mengakses infomasi di belahan dunia tanpa batas. Di Era ini media sosial bagai pisau bermata dua dalam dunia pendidikan anak yang berdampak positif serta dampak negatif.


Dari uraian tersebut, sangatlah jelas bahwa “kenakalan” siswa dalam gagalnya pendidikan tidaklah benar hanya dituntut dan dikambinghitamkan pada guru di lingkungan sekolah. Komponen-komponen di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat mempunyai peran strategis dalam upaya pembentukan peserta didik. Di Era “Zaman Now”, kita menghadapi siswa “milenial” dengan sejuta masalah dan tantangannya. Sebagai seorang guru, dituntut bekerja lebih ekstra keras dengan kompetensi yang dimiliki serta perilaku “meneladani” bagi anak didik, agar tujuan pendidikan yang komprehensif dapat tercapai secara optimal.

Jumat, 24 Agustus 2018

Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (UKMPPG)

Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (UKMPPG)



        Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Selanjutya, dalam Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2008 disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah. Dengan demikian, untuk bisa menjadi guru yang profesional diperlukan keahlian, kemahiran, dan kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu yang diperoleh melalui pendidikan profesi guru (PPG).

          Menurut Permendikbud No 87 Tahun 2014 pasal 1 ayat 2, PPG adalah program yang diselenggarakan untuk menyiapkan lulusan S1 Kependidikan dan S1/DIV Nonkependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru agar menguasasi kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan sehingga dapat memperoleh sertifikat pendidik professional pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah. Selanjutnya, pasal 2 menyebutkan bahwa tujuan PPG adalah (1) untuk menghasilkan calon guru yang memiliki kompetensi dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran; (2) menindaklanjuti hasil penilaian dengan melakukan pembimbingan dan pelatihan peserta didik; (3) melakukan penelitian dan mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan. Sementara itu, dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya penjelasan Pasal 15, ayat 1 disebutkan bahwa Pendidikan Profesi merupakan pendidikan setelah program sarjana yang dirancang untuk menyiapkan peserta didik agar mampu bekerja dengan persyaratan keahlian khusus. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Profesi Guru merupakan pendidikan setelah program sarjana S1/DIV untuk menyiapkan peserta didik menjadi guru profesional. 

Peserta yang LULUS UKMPPG akan mendapat gelar Guru Profesional (Gr.).



 

Lulusan Terbaik Universitas Negeri Semarang


Upacara Wisuda Universitas Negeri Semarang (UNNES) Periode 3 Tahun 2017 tanggal 26 September 2017

Selasa, 10 Mei 2016

ROMBEL PPGT 2016 - GEOMETRI RUANG - PPGT UNNES 2013



Tugas Geometri Bangun Ruang - PPGT UNNES 2013 - Tahun 2016 - PGSD - FMIPA UNNES - Dosen Pengampu : Drs. Suhito, M.Pd

1. MODEL BANGUN RUANG DAN JARING-JARINGNYA ROMBEL PPGT UNNES TAHUN 2016

Untuk Melihat Silakan Klik :

2. RPP KTSP DAN KURIKULUM 2013 ROMBEL PPGT UNNES TAHUN 2016

Untuk Melihat Silakan Klik :

3. MEMBUAT MODEL BANGUN KERUCUT GEOMETRI PPGT UNNES TAHUN 2016

Untuk Melihat Silakan Klik :

Senin, 09 Mei 2016

Mahasiswa PPGT UNNES 2013 - Tahun 2016


PPGT UNNES 2013